PEREMPUAN BERMATA SUSU
:annisa nuraini wijayanti
Aku suka melihatmu menangis! Karena manis bisa terbaca dari air yang mengalir dari tingkap yang tersingkap dari atas lotengmu. Kamar loteng itu hanya berisi sejarah yang telah diisi sejarah pertemuan terpesan. Dan kau (tak) pernah ragu untuk menyenggamai peradaban busuk yang membuatmu ngilu. Sementara usiamu yang melaju pada dewasa hanyalah omong kosong panjang pada rajukan.
Sayang, kenapa baru kutemukan dirimu saat menstruasi panjang di sepanjang musim hujan? Bukankah tahun ini semakin tak memihak bagi kita untuk sekedar mengecup atau menggenggam tangan? Dan kau malah banal dengan segala ingatan tentang alpa hingga untuk menyapa sederhana saja tak pernah kau tuntaskan.
Untung saja air yang keluar dari mata beningmu itu berwarna susu. Meski aku sendiri tak pernah merasakan bagaimana mencumbui warna indahmu. Kau terlalu pemalu menjadi senyum yang ditebarkan dengan candamu. Apalagi, kau sama sekali tak pernah mau berhenti untuk mengembara di kamar loteng itu.
Sayang, aku ingin sekali menyapamu di sudut tubuh yang mulai memberontak itu. Meski kau mengerti betul bagaimana cara untuk memihak dengan keentahan purba. Ah, kenapa masih saja kau putar film yang itu-itu juga? Dan seperti gadis-gadis yang selalu menawarkan batu kepadaku, kau serupa buku pelajaran anak-anak TK yang meronta untuk di wisuda. Hingga begitu banyak janji terucap kepadaku tapi hanya menempel di dinding kamar loteng itu.
Saat ini aku nyaris tak percaya pada setiap yang keluar dari mata lugu. Baru saja aku banyak tertipu oleh janji-janji yang selalu terucap dari mulut gadis-gadis sepertimu. Sebagaimana aku pernah mendengar dari aliran air bening yang selalu mengabarkan - lakukan perkara kecil dulu hingga kau akan bertahan dengan perkara besar. Maka, bukankah kau bisa menjadi kebanyakan jika terlalu banyak berjanji, sebab kau akan mengingkari dengan membeli banyak alasan di sepanjang hari.
Aku hanya ingin kita menjadi tak berjarak sebab itulah satu-satunya cara untuk saling menyapa. Dan biar waktu yang terbungkus itu membuka dengan sedikit rama-rama di halaman rumahmu. Meski aku mencoba mengerti bagaimana nyanyi dan tarianmu yang berdasar dari debu kamar loteng itu, aku hanya menunggu. Sebab aku masih melihat bagaimana senyum palsu itu menggelayut di bibirmu. Kau serupa menahan beban yang berat dan mencoba bertahan dengan kuda-kuda setengah lingkaran. Berhati-hatilah sayang, dengan kuda-kuda seperti itu kau hanya pura-pura tampak tangguh seperti gadis-gadis itu.
Suatu saat nanti, aku akan datang padamu. Menatap mata beningmu yang mengalir susu, dan jangan pernah ragu untuk menyapaku. Akan kukecup mata beningmu itu, menghirup habis yang keluar dari matamu. Percayalah akan kutelan habis airmata susumu. Kita akan bersama menghancurkan kamar loteng itu dan memesan sejarah baru. Semoga kau pilih menempuh jalan itu dan merasakan indah bersamaku. Semoga begitu.
Tbrs, 180109,2225’